Senin, 08 Juli 2013

KEMAMPUAN BERTUTUR DAN PEMAHAMAN TUTURAN OLEH ANAK USIA DUA TAHUN: STUDI KASUS DIPO KHADRA

Bagian terakhir dari thesis saya, nothing special..

BAB V
PENUTUP

Bab ini merupakan kesimpulan hasil analisis data dan beberapa saran terkait penelitian ini. Latar belakang penelitian adalah ketertarikan peneliti ketika mengamati tuturan anak dua di dalam percakapan. Anak dua tahun menarik untuk diteliti karena pada umur ini anak mengalami perkembangan pemerolehan bahasa yang pesat. Pada usia ini, anak usia dua tahun mampu memproduksi tuturan dengan susunan kata lebih dari satu kata dalam satu kalimat ketika berinteraksi dengan orang dewasa. Anak usia dua tahun memiliki kemampuan percakapan layaknya orang dewasa meskipun masih dalam keterbatasan pada tahapan pemerolehan bahasa. Keterbatasan yang dimaksud yakni keterbatasan dalam artikulasi kata, penguasaan leksikon, panjang tuturan, dan pemahaman terhadap tuturan mitra tutur. Selain itu, peneliti juga mendapati keunikan kemampuan percakapan anak usia dua tahun ketika berada di luar lingkungan keluarga. Anak usia dua tahun mengalami perkembangan percakapan ketika berada di lingkungan sekolah.
            Peneliti menggunakan metode kualitatif dan studi kasus dengan sumber data tuturan anak usia dua tahun bernama Dipo Khadra Hardianto. Data diambil selama enam Bulan yakni Juli hingga Desember 2011 dengan teknik rekam dan catat. Selain itu, digunakan juga teknik pancing untuk menjelaskan pemahaman anak terhadap tuturan mitra tutur. Data ditranskrip dan dipilih menjadi 24 data, kemudian dianalisis dan disajikan dalam bentuk informal.
5.1 Kesimpulan
            Anak usia dua tahun di dalam percakapan  memiliki keunikan dari segi bentuk tuturan, fungsi tuturan di dalam percakapan, dan pemahaman anak terhadap tuturan orang dewasa. Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisis peneliti gambarkan sebagai berikut.
5.1.1 Bentuk Tuturan Anak Usia Dua Tahun
Berdasarkan data penelitian, anak dua tahun belum sempurna dalam beberapa pengucapan bunyi konsonan, yakni fonem /r/, fonem /n/ dan gugus konsonan. Anak usia dua tahun sudah menguasai kelas kata nomina, verba, adejektiva, preposisi, pronominal, numeria, adverbial, dan kata seru. Panjang tuturan dalam bentuk tuturan dua tahun meliputi kalimat satu atau dua kata, kalimat tiga kata atau lebih. Selain itu, anak usia dua tahun juga mampu memproduksi kalimat interogatif baik dengan kata tanya ataupun tidak. Bentuk kalimat imperatif berupa larangan, perintah, dan himbauan.
Pada tahapan pemerolehan makna, anak dua tahun mengalami tahap generalisasi berlebih. Pada tahap ini,  anak  memaknai segala bentuk yang dia lihat dan pahamahi untuk pertama kali sama halnya untuk benda atau benda lain yang dia lihat berikutnya.
Dari segi pragmatik, anak dua tahun menguasai dua jenis tindak tutur yakni tindak tutur langsung literal dan tindak tutur tidak langsung literal. Dari data penelitian, tuturan anak usia dua tahun masih bersifat natural, disampaikan secara literal dimana tidak ada makna lain dari kata- kata yang menyusun tuturannya.
Sementara itu, peneliti juga mendapatkan campur kode antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada tuturan anak usia dua tahun. Campur kode ini dimungkinkan karena anak hidup didalam keluarga bilingual.
5.1.2 Kemampuan Fungsi Tuturan Anak Usia Dua Tahun di dalam Percakapan
            Kemampuan tuturan anak di dalam percakapan seperti halnya orang dewasa. Anak sudah memahami pola gilir dan prinsip kerjasama di dalam percakapan. Beberapa fungsi tuturan juga telah dikuasai, baik pada giliran pembuka atau pada giliran reaksi tuturan. Pada tuturan pembuka, anak sudah mampu menginisiasi topik pembicaraan dengan berbagai bentuk, yakni dengan bertanya, mencari perhatian, meminta atau menyuruh, dan memberikan informasi kepada mitra tutur. Selebihnya, anak telah mampu menguasai fungsi tuturan pada giliran percakapan antara lain: menerima tawaran, menolak tawaran, menerima perintah, menolak perintah, menyutujui pernyataan, menyangkal pernyataan, dan menjawab pertanyaan.
5.1.3 Pemahaman Anak Usia Tahun terhadap Tuturan Mitra Tutur di dalam Percakapan
            Peneliti menyimpulkan ada dua indikasi untuk mengetahui anak paham terhadap tuturan mitra tutur, yakni interaksi tanya jawab dimana jawab dan reaksi non verbal yang merupakan respon dari tuturan mitra tutur. Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak untuk memahami tuturan orang dewasa, yaitu faktor internal berupa keterbatasan dalam tahapan pemerolehan bahasa dan faktor eksternal seperti tuturan mitra tutur yang terlalu cepat atau anak tidak memperhatikan.
            Dalam hal ini, anak usia tahun memiliki dua strategi ketika mereka tidak memahami tuturan orang dewasa, strategi pertama yakni dengan bertanya kembali menggunakan kalimat tanya dan strategi kedua adalah partikel Heh? dan Hah? dengan maksud meminta mitra tutur untuk mengulang atau menjelaskan maksud dari pernyataannya.
 5.2 Saran
            Sudah banyak penelitian tentang pemerolehan bahasa pada anak usia dua tahun. Untuk itulah penelitian pemerolehan bahasa baik pada anak usia dua tahun maupun usia lainnya perlu diperluas, seperti membandingkan pemerolehan bahasa pada dua anak dengan bahasa yang berbeda. Penelitian ini juga bersifat kualitatif, penelitian juga dapat dikembangkan dengan menghitung secara kuantitatif kemampuan tuturan anak di dalam percakapan.
            Selain itu, dari data yang diperoleh, peneliti mendapati adanya perkembangan kemampuan anak untuk membaca. D misalnya, berawal dari mengeja kemudian mengeja dengan gambar hingga mampu membaca pada umur tiga tahun. Tahapannya secara sederhana yakni D belajar mengahafal bentuk- bentuk alphabet, kemudian D mampu mengeja- eja tulisan. Sebelum mampu membaca dan mengeja dengan benar, D mengeja huruf kemudian membacanya seperti bentuk atau gambar yang tertera pada huruf tersebut. Misalnya, ketika Papa Dipo menggunakan kaos bergambar buaya dan terdapat tulisan black jack, D dengan lancar mengeja be- el- a- ce- ka- je- a- ce- ka bacanya buaya. Atau ketika melihat tulisan ATM BCA namun dibaca ambil uang. Perkembangan kemampuan pemerolehan minat baca juga menarik untuk dikembangkan lebih lanjut terutama bagi linguistik terapan.
            Sementara itu, penelitian dalam pemahaman bahasa belum banyak dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hal ini karena beberapa metode untuk mengukur kemampuan pemahaman bahasa dirasa sulit untuk dilakukan dan membutuhkan waktu penelitian yang lama untuk menghitung perkembangan komprehensi bahasa. Dengan adanya metode- metode baku seperti Mac Arthur Communicatiove Development Inventories  dapat membantu mengembangkan penelitian komprehensi bahasa anak dengan subjek anak berbahasa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar